Rabu, 15 Oktober 2008

KELUARGA BESAR SMK BRAWIJAYA DALAM HALAL BIHALAL


Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan ukuwah islamiyah, maka Keluarga Besar SMK Brawijaya Mojokerto mengadakan kegiatan Halal Bi Halal yang diselenggarakan pada tanggl 14 Oktober kemarin. ACara cukup bagus, terlihat bahwa ikatan kekeluargaan di sekolah ini cukup terbina sehingga antar ersonil begitu arab dan berkeluarga sekali.
Selamat!
Mohon Maaf, Lahir Batin
Semoga Pada hari ini dan selanjutnya kita selalu dalam Kebaikan





Rabu, 17 September 2008

KALUNG BIDADARI DAN SUNGAI EMAS

Di dalam hutan yang indah dan asri, yang tidak ada sama sekali binatang buasnya, terdapatlah sebuah kerajaan yang sangat tentram dan damai. Kerajaan tersebut dipimpin oleh raja dan ratu yang bernama Sion dan Onis. Mereka berdua sudah lama menginginkan anak, tetapi sampai sekarang keinginan ter-sebut belum terkabulkan.
Belum terkabulnya keinginan tersebut akibat dari sihir ratu Raviona yang tinggal di kerajaan sihir. Raviona adalah ratu sekaligus penyihir yang sangat jahat. Kesalahpahaman Raviona membuat mereka berdua tidak mempunyai anak.
Pada saat itu, dimana diadakannya pernikahan Raja Sion dan Ratu Nois kabar pernikahan itupun sampai di kerajaan sihir Raviona. Raviona yang men-dengar kabar itupun marah besar. Karena dia tidak diundang untuk menghadiri pesta pernikahan Sion dan Nois. Akhirnya setelah itu Raviona pergi menuju pesta pernikahan itu. Untuk memusatkan kemarahannya.
Sesampai di sana apa yang terjadi? Yang terjadi adalah Raviona menyihir semua orang yang ada di dalam kerajaan tersebut menjadi patung, kecuali Sion dan Nois. Sion dan Nois-pun takut melihat Raviona yang datang bermuka seram.
“Ada apa dengan kamu, Viona? Apa yang telah kau lakukan di pesta pernikahanku ini?” tanya Sion.
“Aku kesini datang memberikan hukuman untuk orang yang sudah melupakan aku, sampai- sampai orang itu menikah, dan di pesta pernikahan itu, aku tidak diundang olehnya!”
“Apa maksudmu Viona?”, tanya Nois.
“Kalian, kalianlah orangnya. Kalian berdua menikah dan tidak mengundang aku! Apa kalian lupa, kalau aku ini suka sekali dengan yang namanya pesta?! Dan, sekarang malah kalian berdua membuat aku tidak suka pesta!”
“Bukankah undangan itu sudah sampai dikerajaanmu?”, tanya Sion.
“Kalian berdua jangan banyak alasan. Kalian berdua memang tidak suka kalau aku datang menghadiri pesta kalian. Itu kan yang kalian inginkan. Maka aku ke sini berniat untuk memberi human pada kalian berduia! Aku kutuk kalian tidak mepunyai anak!”
Tongkat sihir Raviona-pun mengeluarkan sinar dan sinar itu mengenai perut Nois. Nois-pun jatuh pingsan.
“ Ha…ha….ha…..”, tawa Raviona dan menghilang pergi, kembali ke kerajaannya.
Setelah Raviona pergi, semua orang yang menjadi patung itupun kembai normal lagi. Dan, semua orang itupun kebingungan, ditambah lagi Nois yang jatuh pingsan. Akhirnya pesta itupun dibubarkan oleh Sion. Nois-pun diangkat dan dibawa Sion ke kamarnya, untuk istirahat.
“Apa sebenarnya yang terjadi, tuan?”, tanya Vori salah satu pembantu-nya.
“Sebenarnya yang terjadi adalah, tadi raviona dating kesini, dia kesini dengan wajah yang menyeramkan. Penuh dendam amarah karena dia bilang aku tidak mengundang dia di pesta pernikahanku dengan Nois. Dan, dia menyihir aku dan Nois, tidak akan pernah mempunyai anak. Padahal aku kan sudah mengundang dia!”
“Bukankah undangan tersebut tuan titipkan ke tukang kebun kerajaan, yaitu Lory untuk diberikan ke Raviona?”
“Sekarang tolong kamu panggilkan si Lory!”
“Iya, tuan,” pembantu itupun menuju ke kebun untuk memanggil Lory.
“Ada apa, Vory kamu kesini?” tanya Lory saat Vory mendekatinya.
“Aku ke sini disuruh tuan Sion untuk memanggil kamu supaya menghadap beliau…!”
Lory dan Vory pun menghadap menuju Raja Sion.
“Ada apa Yang Mulia Sion memanggil saya?”
“Kemarin bukannya kamu yang saya suruh untuk mengantarkan undangan pernikahan saya ke Ratu Raviona?”
“Sebelumnya saya mita maaf, undangan itu belum sampai ke sana tuan. Sebenarnya undangan itu jatuh ke jurang. Jembatan yang saya lewati kayunya rapuh dan tanpa sengaja saya hampir jatuh tuan dan kejaidan itu saya sembunyikan dari tuan, karena saya takut tuan pecat..”
“Saya terima alasan kamu, tapi kenapa kamu harus takut dipecat? Kamu disini itu bekerja sebagai tukang kebun bukan pengantar undangan, apa jadinya tanaman di kerajaan ini kalu tanpa kamu. Justru dengan adanya kejadian itu membuat saya marah sama kamu, sampai Raviona menyihir aku dan isteriku tidak akan pernah mempunyai anak!”
“Maafkan saya Yang Mulia. Maafkan saya,” kata Lory sambil bersujud di depan Sion.
“Apa yang kamu lakukan, cepat berdiri! Tidak apa-apa Lory. Saya maafkan. Dan, sekarang tolong kamu dan Vory kembali bekerja…”
“Iya, tuan”
Hari-pun berganti. Sudah 2 hari, Nois sampai sekarang belum bangun juga. Tapi Nois masih bernafas. Sudha banyak tabib yang didatangkan, tapi belum bangun juga. Akhirnya pada saat Sion mencium Nois, Nois bangun dari tidur lelapnya.
“Apa yang telah terjadi, Sion?”, tanya Nois bingung.
“Kamu pingsan selama 2 hari setelah sinar tongkat Raviona mengenai perutmu..”
“Aku ingat sekarang, di dalam tidurku itu, aku bermimpi ada seorang bidadari yang rambut dan bajunya bersinar menyilaukan, yang berwarna keemasan. Dia menyuruh kita berdua untuk mengambil kalung yang dipakai Raviona dan tongat sihirnya. Dia berkata kalau kalung itu adalah miliknya yang diambil Raviona tanpa sepengetahuannya. Setelah itu Raviona menyihir dia dan memasukkannya ke dalam kalung itu…”
“Kalau kalung itu bisa kita ambil, Bidadari itu akan membantu kita menghilangkan sihirnya Raviona yang kekal itu. Dan, dia bilang, kelemahan Raviona terletak pada tongkat sihirnya, sama dengan Bidadari itu, kelemahannya ada pada kalungnya, karena itu adalah sumber kekuatannya. Yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mengambil tongkat dan kalung itu dari raviona? Setelah kita mengambil tongkat dan kalung itu, dia menyuruh kita membuangnya ke dalam sungai emas di belakang istana kita..”
“Memangnya di belakang istana kita ada sungai emas? Yang aku tahu di belakang istana kita hanya padang rumput,” komentar Sion.
“Dia bilang, setelah kita mengambil tongkat dan kalung yang ada pada Raviona, kita akan tahu apa yang telah dikatakan Bidadari itu, benar ataukah salah!”
Mereka berduapun mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan tongkat dan kalung itu. Akhirnya sebuah ide-pun muncul dari otak Sion.
“Bagaimana kalau kita menggunakan buah perubah yang pernah diberikan Ayahanda? Kata Ayah, buah itu dapat merubah kita berdua menjadi apa yang kita inginkan…”
“Bagaimana kalau kita merubah diri kita menjadi seekor kucing. Raviona kan suka sekali dengan kucing. Setelah kita memakan buah itu, masalahnya adalah kita hanya puya waktu sampai menunjukkan pukul 12 malam. Habis itu kita normal lagi. Sekarang kita harus cepat menuju ke sana…”
Sesampai di kerajaan Raviona, Sion dan Nois langsung memakan buah pemberian ayahanda Sion itu. Dan, merubah diri mereka menjadi seekor kucing. Setelah itu mereka berdua masuk kedalam dan membuat kelucuan didalam agar raviona tertarik dan terpikat untuk memeiharanya. Mereka berdua-pun menari-nari di dalam sehingga orang di dalam melihatnya. Tidak lama kemudian Raviona datang dan penasaran karena banyak orang di dalam yang tertawa gembira.
“Ada Apa Mosi? Apa yang sedang terjadi?,” tanya Raviona kepada salah satu pengawalnya.
“Itu yang Mulia Ratu. Orang-orang berkumpul sedang menyaksikan kelucuan yan dibuat seekor kucing. Entah kucing siapa?”
“Sekarang antarkan aku kesana, Mosi,” perintah Raviona kepada Mosi, pengawalnya itu.
Akhirnya usaha itupun membuahkan hasil yang baik. Raviona-pu tertarik dan menyuruh Mosi mengambil kucing itu dan langsung dibawa ke dalam kamar Raviona dan mereka melihat sekeliling. Banyak sekali patung yan mungkin itu orang yang disihir Raviona.
Waktu-pun menunjukkan waktu pukul setengah dua belas malam. Tapi yang terjadi mereka berdua kelelahan menunggu Raviona tidur, yang sejak dari tadi bermain terus. Tidak lama kemudian, akhirnya Raviona kelelahan danlangsung terlentang di tempat tidur. Setelah itu Raviona tidur pulas. Sion dan Nois-pun mulai beraksi. Nois mengambil tongkat Raviona yang diletakkan di bawah bantalnya sedangkan Sion mengambil kalungnya. Dan, akhirnya mereka berdua-pun berhasil mendapatkan kalung dan tongkat sihirnya Raviona.
Tak lama kemudian waktu menunjukkan pukul 12 malam, saat sampai di gerbang Sion dan Noispun berubah normal lagi. Dan, pada saat itu juga mereka berdua dipergoki penjaga yang bertugas malam di gerbang. Penjaga itu pun berteriak dan mengejar Sion dan Nois, tetapi penjaga itu kehilangan jejak mereka berdua.
Keributan itupun membangunkan Raviona yang sedang asyik tidur pulas. Raviona-pun bangun dan menuju tempat dimana keributan itu terjadi.
“Ada apa penjaga? Apa yang terjadi?,” tanya Raviona kepada penjaga gerbang.
“Itu yang Mulia Ratu, tadi ada dua kucing yang masing-masing membawa kalung dan tongkat yang mirip sekali dengan punya Yang Mulia Ratu. Kucing itu dapat berubah menjadi manusia yang Mulia Ratu. Lari mereka berdua sangat cepat sehingga saya kehilangan jejak Yang Mulia Ratu…”
Raviona-pun sadar kalau kalung dan tongkatnya sudah tidak ada.
“Kemana mereka larinya?”
“ Ke arah selatan, Yang Mulia Ratu,” jawab penjaga itu.
Dan, Ravionapun menuju ke arah selatan. Dengan menaiki sapu terbangnya. Sementara itu Sion dan Nois terus berlari. Mereka berdua tidak tahu kalau di belakangnya, Raviona mengejar mereka dengan menggunakan sapu terbangnya yang supercepat itu. Saat samapai di jembatan penyeberangan yang menghubungkan kerajaan Raviona dengan kerajaan Sion, kaki Moispu ter-perosok karena kayunya rapuh dan hampir saja Nois jatuh ke jurang yang sangat dalam.
Akhirnya mereka berdua-pun ketahuan oleh Raviona. Mereka berduapun tetap terus berlari menuju ke istana mereka.
Sesampai di gerbang, Raviona langsung menyambar tongkatnya yang dibawa Sion. Dengan perasaan yang takut, Sion-pun mengambil sebuah cermin yang ada di belakangnya dan mengarahkan tepat ke arah Raviona, sehingga sihir Raviona memantul dan menuju kembali ke arah Raviona. Raviona-pun menjadi patung.
Tongkat yang dibawa Raviona-pun diambil Sion. Sion dan Nois-pun langsung menuju ke belakang istana. Saat mereka sampai di belakang, apa yang terjadi? Mereka berdua terkejut melihat sungai yang bersinar keemasan dan menyilaukan, padahal sebelumnya halaman belakang istana adalah padang rumput yang luas.
Dan, setelah itu mereka berdua membuang tongkat dan kalung ke sungai emas. Setelah tongkat dan kalung dibuang ke sungai, muncullah sesosok wanita yang bersinar menyilaukan setiap orang yang melihatnya. Dia muncul dari dasar sungai. Wanita itu sangat cantik. Rambutnya bersinar keemasan. Begitu juga engan bajunya. Wanita tersebut tidak lain adalah penghuni sungai emas di belakang istana itu.
Bidadari itupun menyuruh Nois menceburkan dirinya ke dalam sungai emas itu.
“ Masuklah ke dalam sungai ini dan mandilah!”
Mois-pun menuruti perkataan Bidadari itu. Setelah itu Bidadari itu-pun tenggelam ke dalam sungai dan menghilang serta tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Sungai itupun tidak berwarna keemasan lagi, tetapi seperti warna air sungai biasa.
Setelah itu patung Raviona menghilang juga, entah kemana, tidak ada orang yang tahu tentang patung itu kecuali Sion dan Nois.
Semuanyapun kembali normal. Patung yang ada di kamarnya raviona-pun kembali seperti semula. Dan, sekarang kerajaan itu dipimpin oleh Saviora, adiknya yang sebelumnya menguasai kerajaan itu tapi karena kedengkian Raviona, Saviorapun disihir menjadi patung dan Raviona mengambil alih apa yang dimiliki Saviora. Saviora adalah ratu yang baik hati dan penyihir yang tidak seperti Raviona, menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sedangkan yang terjadi di kerajaan Sion dan Nois adalah kegembiraan. Sioan dan Nois pun akhirnya memiliki seorang anak dan anaknya perempuan, rambutnya berwarna emas dan memiliki tanda lahir yang terletak di telapak tangan kanannya. Tanda tersebut bergambarkan kalung yang mirip sekali dengan milik Bidadari itu. Dan anak itu diberi nama Fairy Necklace atau Kalung Bidadari, sesuai dengan tanda lahirnya dan cerita sebelum dia dilahirkan.

Mojokerto, September 2008

Aifin dan Arifan

Aifin dan Arifan adalah sudara kembar. Sejak umur 1 tahun merek berdua sudah terpisah. Arifan pada saat itu diinggalkan ibunya di kamar karena ibunya mau menyiapkan air untuk memandikan Arifan. Sedangkan Aifin digendong ayahnya di kebun belakang.
Tanpa disadari dua orang, yaitu waita dan laki-laki masuk lewat jendela dan mengambil Arifan dan membawanya pergi jauh. Saat air sudah siap, ibunya kembali ke kamar mengambil Arifan untuk dimandikan. Tetapi, apa yang terjadi sebuah teriakan yang membuat seluruh orang rumah maupun lura rumah pada kaget.
“Ada apa, ma?” tanya ayah.
‘Itu,Yah. Arifan,Yah, tidak ada. Arifan hilang, Yah..” sambil menangis, “Padahal tadi, maka tinggal sebentar untuk menyiapkan air tapi apa yang terjadi setelah mama kembali? Arifan sudah tidak ada, Yah…”
“Sudahlah, ma. Nanti kita cari Arifan bersama-sama, kalaupun belum ketemu, kita telepon polisi.”
“Tapi, yah. Mama merasa bersalah karena mneinggalkan Arifan sendirian…”
“Sudahlah, ma. Kita serahkan semuanya pada yang diatas, Tuhan!”
berhari-hari mencari tidak juga ketemu padahal sudah diumumkan di Koran, radio bahkan televisi juga belum ketemu. Pencarian pun berakhir saat umur Aifin 9 tahun.
Pada saat itu Aifin bertanya pada ayahnya,”Yah, ada apa dengan mama?”
“Tidak ada apa-aa, nak. Mama kamu hanya kelelahan..”
“Tapi kenapa mama selalu memanggil aku dengans ebutan Arifan sedangkan Ayah memanggilku Aifin?”
“Namaku itu sebetulnya siapa sih, Yah?”
“Nama kamu itu Richard Aifin..”
“Tapi kenapa mama?”
“ Oh..itu. mama kamu ngefans sama penyanyi terkenal dulu yang katanya wajahnya mirip sama kamu. Ya..Arifan itu…”
“ Oh…gitu ya Yah..”
Sekarang Aifin berumur 19 tahun. Dia bersekolah di SMAN 2 Brawijaya Malang. Pada liburan sekolah ini Aifin dan teman-temannya liburan ke Bali selama 2 minggu. Hari minggu Aifin dan teman-temannya brangkat ke Bali.
Begitu juga dengan Arifan sekarang juga umurnya 19 tahun. Dia bersekolah di SMN 1 Bali. Di Bali nama Arifan diganti oleh pengasuh yang menculiknya menjadi Dewa Arifan atau Dewa. Dewa diasuh dengan penuh kasih saying seperti anak kandungnya sendiri. Liburan sekolahini Dewa dengan teman-temannya berlibur ke kota Malang selama 2 minggu. Sama dengan Aifin, Dewa juga pergi pada hari minggu.
Jam 03.00 Aifin sampai di Bali. Dia dan teman-temannya mencari tempat pengiapan yang tanpa sengaja dekat dengan tempat tinggal Dewa atau Arifan itu.
Sama dengan Aifin, Dewa juga tiba di malang jam 03.00. Dewa mencari rumah penginapan, dimana penginapan tersebut dekat dengan tempat tinggal tantenya, yang sebenarnya Dewa tidak tahu kalau mempunyai tante.
Pada [agi hari Aifin dan teman-temannya jalan-jalan menuju panati. Di jalan Aifin disapa dengan panggilan Dewa, dan banyak orang di jalan yang senyum, terlihat rama seakan-akan mereka akarab, padahal ifin baru kali ini pergi ke Bali. Aifin-pun bingung kenapa tadi ia dipanggil Dewa, padahal namanya Aifin. Teman-teman Aifin juga ikut bingung.
Sedangkan Dewa dan teman-temannya perggi mencari makanan utuk sarapan. Langkah Dewa terhenti saat ada seorang wanita memanggil dirinya Aifin. Wanita itu berkata:
“ Fin, katanya kamu liburan ke Bali? Kamu ke sini ke rumahnya tante ya? Ada apa? Apa ada masalah di rumah?”
Dewa-pun bingung.
“Maaf, bu. Saya bukan Aifin, saya Dewa”.
“ Dewa Shiwa maksudmu?! Ach, kamu jangan bercanda. Kamu kan tahu tante nggak suka bercanda..”
dalam pikiran Dewa, dia menganggap kalau wanita itu gila, dia dan teman-temannya lari dengan cepat mneuju penginapan dan tidakjadi membeli makanan.
Wanita itupun berterika, “Fin, ada apa? Kenapa kamu lari?”
Wanita itu atau tante Shanty itu bingung dan setelah itu dia langsung menuju ke rumah Aifin.
Ting tong, suara bel berbunyi. Salah satu pembantu membukakan pintu.
“Oh…ibu, ada apa, bu?”
“Dimana bu Umi?”
“Itu ibu ada di kamar..”
Tante Shantypun menuju ke kamar bu Umi, kakaknya.
Tok…tok….
“Siapa?”
“Aku,kak…Shanty….”
“Oh… masuk aja…”
“Kakak sedang apa?”
“Aku habis mandi. Ada apa kamu ke sini, Shanty?”
“Aku Cuma mau menanyakan satu hal. Aifin apa tidak jadi liburan ke Bali?”
“Lho, masa kamu tidak tahu? Dia kan pamitan ke kamu!”
“Iya, sih. Tapi tadi dia ada di sekitar rumahku!”
“Masa sih?”
“Iya, kak.”
“Coba aku hubungi dia!”
Bu Umi meraih handphone yang ada di teras lemari cerminnya.
“Haloo… Aifin?”
“Iya, mam. Ada apa, mam?’
“Tidak ada apa-apa. Kamu sekarang ada dimana?”
“Lho…aku kan liburan ke Bali sama teman-teman. Mama lupa ya??”
“ Tidak. Ini nich, tantemu mau ngomong kalau kamu sekarang ada di Malang. Kamu tidak di bali…”
“Iya, tante. Kalau tante nggak percaya dengarkan ini! Suara ombak, burung camar, dan musik tradisional Bali.”
“Bener ya, nggak bohong?”
“Iya, tante. Aku berani bersumpah!”
“ya udah. Kalau begitu hati-hati ya disana..”
“Iya tante…”
“Bagaimana, kamu udah percaya sekarang?”
“Iya, kaka. Tapi yang tadi itu kalau bukan Aifin terus siapa?”
Mereka berdua-pun berpikir dan secara serempak mereka berucap bersamaan: “ Mungkin itu Arifan!”
“Sekarang ada dimana?”
“Tidak tahu kak. Tadi aku tahu di depan warung sebelah rumahku..”
“Ayo kita kesana!”
Mereka berdua menuju ke warung, dimana kata tante Shanty melihat Aifin yang katanya Arifan itu.
Sedangkan yang terjadi di Bali, Aifin dan teman-temannya berenang. Setelah itu kembali ke penginapan. Sampai di sana mereka berniat untuk kembali ke Malang karena uang mereka mulai menipis.
Bu Umi dan tante Shanty menuju ke tempat, dimana Arifan berada. Sampai di sana tidak lama kemudian Aifin menghubungi mamanya.
“Halo, mama. Ma aku sudah sampai di rumah, lho…”
“Katanya 2 minggu?”
“Rencananya begitu tapi uang kami habis. Jadi takut tidak bisa pulang. Mama sekarang ada dimana?”
“Mama ada di rumah tante Shanty. Kamu cepat ke sini ya..”
“Iya, ma. Aku segera kesana…”
Tidak lama kemudian Aifin datang.
“Ada apa, ma?”
“Tidak ada apa-apa. Apa benar kamu pergi ke Bali? Tidak bohong sama mama?”
“Aifin kan sudah bilang sama mama kalauAifin liburan ke Bali. Laian Aifin kan tidak suka berbohong!”
“Iya, deh. Mama percaya. Ayo kita pulang!”
“Tapi, kak. Arifan bagaimana?”
“Mungkin itu hanya halusinasimu saja. Lagian kamu kenapa membuatku sedih mengingat Arifan?!”
“Tidak kak. Itu beneran kok!”
“Ma, siapa sih Arifan itu?” Tanya Aifin.
“Tidak. Bukan siapa-siapa kok!”
“Tidak. Pasti ada yang disembunyikan dari aku. Ayo dong ma kasih tahu…”
Tidak lama kemudian ayah menelpon.
“Ma, mama ada dimana?”
“Di rumahnya Shanty.. Mama dengan Aifin di sini.”
“Aifin sudah pulang ya mam?”
“Iya, yah. Ayah ke sini ya…”
Aifin terus bertanya pada mamanya tapi tidak dihiraukan oleh mamanya. Ayahnya datang. Mama menyuruh ayahnya untuk menceritakan tentang Arifan.
“Iya dong Yah, ceritakan Aifin dari dulu kan penasaran..”
“Iya…iya…. Arifan itu adik kamu. Kalian itu saudara kembar. Waktu kecil Arifan hilang saat ditinggal mamamu di kamar untuk menyiapkan air untuk memandikannya. Sampai sekarangpun belum ketemu…”
“Lho, kenapa mama menangis?” Tanya Aifin saat melihat mamanya menangis.
“ Mama bersalah karena telah meninggalkan Arifan sendirian sehingga arifan hilang. Mungkin diculik orang…”
“ Jangan cengeng, ma. Mama kan bilang pada Aifin kalau mama tidak suka anak yang cengeng, kok sekarang mama yang cengeng?”
“Ayo kita pulang. Nanti kita kemalaman”
“Ayo kak, Shanty antar sampai di depan.”
Sesampai di depan halaman, tante Shanty melihat sesosok wajah mirip Aifin yang sedang makan di warung sebelah.
“Kak…kak itu kak… di warung ..”
“Apa Shanty?”
“Itu…kak. Mungkin Arifan..”
“Mana?”
“Itu kak di warung, lagi makan.”
“iya…ayo kita kesana!”
aifin, Ayah, Bu Umi dan tante Shanty mneuju dimana warung tempat Arifan makan.
“Arifan!” bu Umi memeluk Dewa atau Arifan itu.
Dewa-pun bingung.
“Ada apa, bu?”
“Kamu anakku…!”
Dewa-pun tidak percaya. Dewa dan teman-temannya berpikir kalau di lingkungan ini banyak orang gilanya.
Kemudian bu Umi menunjukkan Aifin kakaknya yang mukanya mirip dengannya.
“Dia kakakmu! Kalian ini saudara kembar. Sejak umur 1 tahun, kamu hilang diculik orang!”
Teman-teman Dewa-pun bertambah bingung, kalau Dewa ada dua. Dewa dan teman-temannya pun percaya.
“Ayo sekarang kamu ikut mama. Kita sekarang pulang. Alan kutunjukkan bukti kalau kamu itu Arifan!”
Sesampai di rumah, Dewa melihat rumah itu seperti istana, tidak seperti rumahnya di Bali.
“Ini dia foto kalian waktu masih berumur 1 tahun. Ini kamu Arifan, kamu mempunyai tahi lalat besar di pahamu. Iya, kan?”
“ Iya, bu..”
“Jangan panggil aku bu, aku ini mamamu dan ini ayahmu. Ini kakakmu Aifin.”
“Selamat dating di rumah adikku Arifan,”kata Aifin.
“Terima kasih, kak!”
sementara itu teman-teman Dewa atau Arifan di penginapan sdang mneunggu dia yang rencananya mereka mau pulang lebih cepat. Setelah Dewa datang dengan Aifin kakaknya, dia berkata:
“Kalian kembali saja dulu dan tolong bilang sama ibu dan bapak di Bali. Suruh datang ke sini..”
“Iya, kamu hati-hati ya disini Dewa..”
“Iya, selamat tinggal teman-teman…”

Mosy salah satu teman Dewa memberitahukan kepada ibu dan bapaknya Dewa kalau mereka berdua disuruh ke Malang menyusul Dewa, di penginapan. Dalam hatinya mereka berdua bertanya-tanya.
Setelah sampai di Malang, mereka berdua dikejutkan oleh dua Dewa. Karena sebelumnya mereka berdua tidak tahu sebenarnya Dewa mempunyai saudara kembar. Setelah itu mereka berdua ditanyai oleh bu Umi, Aifin dan Arifan.
“Kenapa kalian menculik anakku?” Tanya bu Umi
“Karena kami ingin mempunyai anak sedangkan kami tidak bisa mempunyai anak. Hanya ingin mempuyai anak. Satu-satunya jalan keluar agar kami dapat mempunyai seorang anak…”
“Ya udah, tidak apa-apa” kata ayah.
“Terima aksih kalian telah membesarkan Arifan dan memebrikan kasih saying seakan kalian orangtua kandungnya dan Arifan memohon kepada kami kalau kalian berdua tidak dipenjara. Tapi kalian tetap menjadi orangtua asuhnya Arifan…”
“Terima kasih, pak. Kami berdua sangat senang sekali…”
“Sama-sama dan sekarang Ayah dan ibunya Aifin dan Arifan ada dua..Hore….” teriak Aifin dan Arifan berbarengan!

Tammat

Cerita Pendek: siswa smk brawijaya

Ada apa dengan hari Senin dan Selasa??
Oleh: Alfin, Kelas I TPm 2

Hari Senin ini Aifin tidak masuk sekolah, dan tidak ada pemberitahuan dari rumah, kata teman-temannya ketika ditanya oleh bu Eiya.
Mereka selalu menjawab: “ Kalau setiap hari Senin dan Selasa Aifin selalu absen”. Sedangkan di hari yang lain Aifin sangat aktif!
“ Tolong anak-anak ya,kalau Aifin masuk suruh menghadap ke saya!” kata Bu Eiya.
Hari ini, hari Rabu, Aifin mulai masuk dan salah satu temannya. Lisa memberitahukan kepada Aifin kalau Aifin dipanggil Bu Eiya.
Dalam hatinya Aifin bertanya-tanya dan perasaan takut mendengar dirinya dipanggil Bu Eiya. Setelah itu Aifin langsung mneuju ke ruang guru, menghadap Bu Eiya.
“Assalamu’alaikum…”
“Waalaikum salam….. Ada apa Fin?”
“Tidak, pak. Katanya saya dipanggil Bu Eiya…”
“ Masuk, Fin…..” terdengar suara Bu Eiya yang habis keluar dari toilet.
“ Ada apa bu, kok saya dipanggil ?”
“ Kenapa setiap hari Senin dan Selasa kamu tidak pernah masuk?” tanya bu Eiya.
“Saya hari Senin dan Selasa tidak pernah masuk karena saya tidak punya celana untk saya pakai. Sementara celana saya bagian pantatnya sobek besar dan tidak mungkin lagi dijahit karena tidak bisa dipakai lagi dan sedangkan untuk membeli yang baru saja, saya tidak mampu. Ibu kan tahu keluarga saya miskin dan sekolah yang menanggung biayakan bu Eiya…”
“Kamu itu Fin…kalau ada apa-apa bilang ke ibu, mungkin saja ibu bisa membantu, ya sudah masuk ke kelas sana!”
Dengan penuh rasa gelisah, Aifin langsung menuju ke kelas dan meng-ikuti pelajaran seperti biasanya.
Pada esok harinya saat pelajaran sudah dimulai, kata teman Aifin. Aifin dipanggil bu Eiya. Setelah mendengar itu Aifin menuju ke ruang guru.
“ Assalamu’alaikum…”
“Walaikum salam…”
“Ada apa bu…?” kata Aifin dengan nada takut.
“Tolong kamu buka bungkusan di sebelahmu itu…!” perintah bu Eiya.
“Apa ini, bu?”
“Jangan banyak Tanya. Cepat kamu buka!” perintah bu Eiya keras.
Aifin menjadi takut ketika dibentak bu Eiya.
Saat dibuka, yang terlihat adalah sebuah celana baru yang biasa dipakai pada hari Senin dan Selasa.
“ Ini untuk saya, Bu?” dengan hati gembira Aifin bertanya.
“Iya…” kata bu Eiya sambil tersenyum.
Oh…. Aifin merasa terharu karena terlarut dalam kebaikannya bu Eiya.
“Terima kasih, bu. Terima kasih banyak, akan saya pakai celana ini dan akan saya jaga baik-baik agar tidak sobek lagi…”
“ Sama-sama tapi kamu harus lebih giat lagi belajar, supaya kamu pintar. Kalau kamu enak kan kamu yang senang…!”

Puisi Anak Didik SMK Brawijaya Mojokerto

KemurahanMu

Kau memberikan kami udara
yang kami hirup tanpa kami bayar
Kau berikan bumi ini tanpa Kau minta balas kasih

Kami tahu….
Kau hanya ingin
kami bersujud
menyembahMu
dan mengakui Kau ada

kami bersyukur padaMu
Kau memuliakan kami
Kau menyempurnakan kami
Dari semua yang telah Engkau ciptakan

Mat kami bisa melihat
Tangan kami bisa bergerak
Kami bisa berbicara
Kami bisa mendengar

Kami bersyukur
Semua itu tidak Kau ambil
Apa jadinya semua itu
Jika tidak berfungsi?!

Kami berjanji
Bumi ini akan kami jaga
Seperti kami menjaga
Diri kami sendiri









Buku

Kau selalu setia
Mengajari dan membimbingku
Di kala aku susah
Di dalam kebodohanku

Setiap kali aku membukamu
Senyum lebarmu menyapaku
Yang siap mengantarku
Pergi ke alam pengetahuan

Terima kasih buku
Kaulah pahlawan berjasa
Yang selalu ada
Di kala aku bingung!


Rinduku

Ibu……
Kau telah mengukir namamu
Di dalam hatiku
Cinta yang engkau berikan
Takkan pernah kulupakan

Ibu……
Di sini aku merindukanmu
Tapi aku tahu kalaupun aku sedih
Kau tidak akan tenang

Andai aku bisa mengubah
Waktu
Tak akan kuulangi
Kesalahanku padamu

Ibu……. aku tahu
Surga ada di bawah telapak kaki ibu
Maka karena itulah
Maafkan kesalahanku, ibu!



Karunia Tuhan

Seiring alam
Dadaku terasa hangat
Penuh nikmat dan bahagia
Merasuk ke kalbu

Inginku bersorak
Betapa indahnya alam ini
Hai.. manusia jangan kau rusak
Karunia ini!

Tugasmu hanya menjaga,
Memanfaatkannya,
Apakah itu kurang baik untukmu??!

Bersyukurlah kepada yang illahi
Kau masih bisa mneikmati semua ini!


Guruku

Kau tumpahkan,
Kau masukkan
Semua ilmu
Pada ingatan kami

Kau berusaha dengan sekuat tenaga
Agar kami dapat menggapai
Masa depan yang lebih baik

Guruku…….
Kaulah pahlawanku
Pahlawan tanpa tanda jasa!

Sabtu, 13 September 2008

Anak-anak butuh Kreatif

Hai...selamanya, anak didik membutuhkan semangat untuk berkarya!
Disinilah, anak-anak SMK Brawijaya Mojokerto menampung dan mengungkapkan semua kreasi dirinya!
Siapa yang ingin bergabung, ayo selalu terbuka kesempatan seluas-luasnya untuk kalian semua! Kirimkan saja ke ruang kita ini!