Rabu, 17 September 2008

KALUNG BIDADARI DAN SUNGAI EMAS

Di dalam hutan yang indah dan asri, yang tidak ada sama sekali binatang buasnya, terdapatlah sebuah kerajaan yang sangat tentram dan damai. Kerajaan tersebut dipimpin oleh raja dan ratu yang bernama Sion dan Onis. Mereka berdua sudah lama menginginkan anak, tetapi sampai sekarang keinginan ter-sebut belum terkabulkan.
Belum terkabulnya keinginan tersebut akibat dari sihir ratu Raviona yang tinggal di kerajaan sihir. Raviona adalah ratu sekaligus penyihir yang sangat jahat. Kesalahpahaman Raviona membuat mereka berdua tidak mempunyai anak.
Pada saat itu, dimana diadakannya pernikahan Raja Sion dan Ratu Nois kabar pernikahan itupun sampai di kerajaan sihir Raviona. Raviona yang men-dengar kabar itupun marah besar. Karena dia tidak diundang untuk menghadiri pesta pernikahan Sion dan Nois. Akhirnya setelah itu Raviona pergi menuju pesta pernikahan itu. Untuk memusatkan kemarahannya.
Sesampai di sana apa yang terjadi? Yang terjadi adalah Raviona menyihir semua orang yang ada di dalam kerajaan tersebut menjadi patung, kecuali Sion dan Nois. Sion dan Nois-pun takut melihat Raviona yang datang bermuka seram.
“Ada apa dengan kamu, Viona? Apa yang telah kau lakukan di pesta pernikahanku ini?” tanya Sion.
“Aku kesini datang memberikan hukuman untuk orang yang sudah melupakan aku, sampai- sampai orang itu menikah, dan di pesta pernikahan itu, aku tidak diundang olehnya!”
“Apa maksudmu Viona?”, tanya Nois.
“Kalian, kalianlah orangnya. Kalian berdua menikah dan tidak mengundang aku! Apa kalian lupa, kalau aku ini suka sekali dengan yang namanya pesta?! Dan, sekarang malah kalian berdua membuat aku tidak suka pesta!”
“Bukankah undangan itu sudah sampai dikerajaanmu?”, tanya Sion.
“Kalian berdua jangan banyak alasan. Kalian berdua memang tidak suka kalau aku datang menghadiri pesta kalian. Itu kan yang kalian inginkan. Maka aku ke sini berniat untuk memberi human pada kalian berduia! Aku kutuk kalian tidak mepunyai anak!”
Tongkat sihir Raviona-pun mengeluarkan sinar dan sinar itu mengenai perut Nois. Nois-pun jatuh pingsan.
“ Ha…ha….ha…..”, tawa Raviona dan menghilang pergi, kembali ke kerajaannya.
Setelah Raviona pergi, semua orang yang menjadi patung itupun kembai normal lagi. Dan, semua orang itupun kebingungan, ditambah lagi Nois yang jatuh pingsan. Akhirnya pesta itupun dibubarkan oleh Sion. Nois-pun diangkat dan dibawa Sion ke kamarnya, untuk istirahat.
“Apa sebenarnya yang terjadi, tuan?”, tanya Vori salah satu pembantu-nya.
“Sebenarnya yang terjadi adalah, tadi raviona dating kesini, dia kesini dengan wajah yang menyeramkan. Penuh dendam amarah karena dia bilang aku tidak mengundang dia di pesta pernikahanku dengan Nois. Dan, dia menyihir aku dan Nois, tidak akan pernah mempunyai anak. Padahal aku kan sudah mengundang dia!”
“Bukankah undangan tersebut tuan titipkan ke tukang kebun kerajaan, yaitu Lory untuk diberikan ke Raviona?”
“Sekarang tolong kamu panggilkan si Lory!”
“Iya, tuan,” pembantu itupun menuju ke kebun untuk memanggil Lory.
“Ada apa, Vory kamu kesini?” tanya Lory saat Vory mendekatinya.
“Aku ke sini disuruh tuan Sion untuk memanggil kamu supaya menghadap beliau…!”
Lory dan Vory pun menghadap menuju Raja Sion.
“Ada apa Yang Mulia Sion memanggil saya?”
“Kemarin bukannya kamu yang saya suruh untuk mengantarkan undangan pernikahan saya ke Ratu Raviona?”
“Sebelumnya saya mita maaf, undangan itu belum sampai ke sana tuan. Sebenarnya undangan itu jatuh ke jurang. Jembatan yang saya lewati kayunya rapuh dan tanpa sengaja saya hampir jatuh tuan dan kejaidan itu saya sembunyikan dari tuan, karena saya takut tuan pecat..”
“Saya terima alasan kamu, tapi kenapa kamu harus takut dipecat? Kamu disini itu bekerja sebagai tukang kebun bukan pengantar undangan, apa jadinya tanaman di kerajaan ini kalu tanpa kamu. Justru dengan adanya kejadian itu membuat saya marah sama kamu, sampai Raviona menyihir aku dan isteriku tidak akan pernah mempunyai anak!”
“Maafkan saya Yang Mulia. Maafkan saya,” kata Lory sambil bersujud di depan Sion.
“Apa yang kamu lakukan, cepat berdiri! Tidak apa-apa Lory. Saya maafkan. Dan, sekarang tolong kamu dan Vory kembali bekerja…”
“Iya, tuan”
Hari-pun berganti. Sudah 2 hari, Nois sampai sekarang belum bangun juga. Tapi Nois masih bernafas. Sudha banyak tabib yang didatangkan, tapi belum bangun juga. Akhirnya pada saat Sion mencium Nois, Nois bangun dari tidur lelapnya.
“Apa yang telah terjadi, Sion?”, tanya Nois bingung.
“Kamu pingsan selama 2 hari setelah sinar tongkat Raviona mengenai perutmu..”
“Aku ingat sekarang, di dalam tidurku itu, aku bermimpi ada seorang bidadari yang rambut dan bajunya bersinar menyilaukan, yang berwarna keemasan. Dia menyuruh kita berdua untuk mengambil kalung yang dipakai Raviona dan tongat sihirnya. Dia berkata kalau kalung itu adalah miliknya yang diambil Raviona tanpa sepengetahuannya. Setelah itu Raviona menyihir dia dan memasukkannya ke dalam kalung itu…”
“Kalau kalung itu bisa kita ambil, Bidadari itu akan membantu kita menghilangkan sihirnya Raviona yang kekal itu. Dan, dia bilang, kelemahan Raviona terletak pada tongkat sihirnya, sama dengan Bidadari itu, kelemahannya ada pada kalungnya, karena itu adalah sumber kekuatannya. Yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mengambil tongkat dan kalung itu dari raviona? Setelah kita mengambil tongkat dan kalung itu, dia menyuruh kita membuangnya ke dalam sungai emas di belakang istana kita..”
“Memangnya di belakang istana kita ada sungai emas? Yang aku tahu di belakang istana kita hanya padang rumput,” komentar Sion.
“Dia bilang, setelah kita mengambil tongkat dan kalung yang ada pada Raviona, kita akan tahu apa yang telah dikatakan Bidadari itu, benar ataukah salah!”
Mereka berduapun mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan tongkat dan kalung itu. Akhirnya sebuah ide-pun muncul dari otak Sion.
“Bagaimana kalau kita menggunakan buah perubah yang pernah diberikan Ayahanda? Kata Ayah, buah itu dapat merubah kita berdua menjadi apa yang kita inginkan…”
“Bagaimana kalau kita merubah diri kita menjadi seekor kucing. Raviona kan suka sekali dengan kucing. Setelah kita memakan buah itu, masalahnya adalah kita hanya puya waktu sampai menunjukkan pukul 12 malam. Habis itu kita normal lagi. Sekarang kita harus cepat menuju ke sana…”
Sesampai di kerajaan Raviona, Sion dan Nois langsung memakan buah pemberian ayahanda Sion itu. Dan, merubah diri mereka menjadi seekor kucing. Setelah itu mereka berdua masuk kedalam dan membuat kelucuan didalam agar raviona tertarik dan terpikat untuk memeiharanya. Mereka berdua-pun menari-nari di dalam sehingga orang di dalam melihatnya. Tidak lama kemudian Raviona datang dan penasaran karena banyak orang di dalam yang tertawa gembira.
“Ada Apa Mosi? Apa yang sedang terjadi?,” tanya Raviona kepada salah satu pengawalnya.
“Itu yang Mulia Ratu. Orang-orang berkumpul sedang menyaksikan kelucuan yan dibuat seekor kucing. Entah kucing siapa?”
“Sekarang antarkan aku kesana, Mosi,” perintah Raviona kepada Mosi, pengawalnya itu.
Akhirnya usaha itupun membuahkan hasil yang baik. Raviona-pu tertarik dan menyuruh Mosi mengambil kucing itu dan langsung dibawa ke dalam kamar Raviona dan mereka melihat sekeliling. Banyak sekali patung yan mungkin itu orang yang disihir Raviona.
Waktu-pun menunjukkan waktu pukul setengah dua belas malam. Tapi yang terjadi mereka berdua kelelahan menunggu Raviona tidur, yang sejak dari tadi bermain terus. Tidak lama kemudian, akhirnya Raviona kelelahan danlangsung terlentang di tempat tidur. Setelah itu Raviona tidur pulas. Sion dan Nois-pun mulai beraksi. Nois mengambil tongkat Raviona yang diletakkan di bawah bantalnya sedangkan Sion mengambil kalungnya. Dan, akhirnya mereka berdua-pun berhasil mendapatkan kalung dan tongkat sihirnya Raviona.
Tak lama kemudian waktu menunjukkan pukul 12 malam, saat sampai di gerbang Sion dan Noispun berubah normal lagi. Dan, pada saat itu juga mereka berdua dipergoki penjaga yang bertugas malam di gerbang. Penjaga itu pun berteriak dan mengejar Sion dan Nois, tetapi penjaga itu kehilangan jejak mereka berdua.
Keributan itupun membangunkan Raviona yang sedang asyik tidur pulas. Raviona-pun bangun dan menuju tempat dimana keributan itu terjadi.
“Ada apa penjaga? Apa yang terjadi?,” tanya Raviona kepada penjaga gerbang.
“Itu yang Mulia Ratu, tadi ada dua kucing yang masing-masing membawa kalung dan tongkat yang mirip sekali dengan punya Yang Mulia Ratu. Kucing itu dapat berubah menjadi manusia yang Mulia Ratu. Lari mereka berdua sangat cepat sehingga saya kehilangan jejak Yang Mulia Ratu…”
Raviona-pun sadar kalau kalung dan tongkatnya sudah tidak ada.
“Kemana mereka larinya?”
“ Ke arah selatan, Yang Mulia Ratu,” jawab penjaga itu.
Dan, Ravionapun menuju ke arah selatan. Dengan menaiki sapu terbangnya. Sementara itu Sion dan Nois terus berlari. Mereka berdua tidak tahu kalau di belakangnya, Raviona mengejar mereka dengan menggunakan sapu terbangnya yang supercepat itu. Saat samapai di jembatan penyeberangan yang menghubungkan kerajaan Raviona dengan kerajaan Sion, kaki Moispu ter-perosok karena kayunya rapuh dan hampir saja Nois jatuh ke jurang yang sangat dalam.
Akhirnya mereka berdua-pun ketahuan oleh Raviona. Mereka berduapun tetap terus berlari menuju ke istana mereka.
Sesampai di gerbang, Raviona langsung menyambar tongkatnya yang dibawa Sion. Dengan perasaan yang takut, Sion-pun mengambil sebuah cermin yang ada di belakangnya dan mengarahkan tepat ke arah Raviona, sehingga sihir Raviona memantul dan menuju kembali ke arah Raviona. Raviona-pun menjadi patung.
Tongkat yang dibawa Raviona-pun diambil Sion. Sion dan Nois-pun langsung menuju ke belakang istana. Saat mereka sampai di belakang, apa yang terjadi? Mereka berdua terkejut melihat sungai yang bersinar keemasan dan menyilaukan, padahal sebelumnya halaman belakang istana adalah padang rumput yang luas.
Dan, setelah itu mereka berdua membuang tongkat dan kalung ke sungai emas. Setelah tongkat dan kalung dibuang ke sungai, muncullah sesosok wanita yang bersinar menyilaukan setiap orang yang melihatnya. Dia muncul dari dasar sungai. Wanita itu sangat cantik. Rambutnya bersinar keemasan. Begitu juga engan bajunya. Wanita tersebut tidak lain adalah penghuni sungai emas di belakang istana itu.
Bidadari itupun menyuruh Nois menceburkan dirinya ke dalam sungai emas itu.
“ Masuklah ke dalam sungai ini dan mandilah!”
Mois-pun menuruti perkataan Bidadari itu. Setelah itu Bidadari itu-pun tenggelam ke dalam sungai dan menghilang serta tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Sungai itupun tidak berwarna keemasan lagi, tetapi seperti warna air sungai biasa.
Setelah itu patung Raviona menghilang juga, entah kemana, tidak ada orang yang tahu tentang patung itu kecuali Sion dan Nois.
Semuanyapun kembali normal. Patung yang ada di kamarnya raviona-pun kembali seperti semula. Dan, sekarang kerajaan itu dipimpin oleh Saviora, adiknya yang sebelumnya menguasai kerajaan itu tapi karena kedengkian Raviona, Saviorapun disihir menjadi patung dan Raviona mengambil alih apa yang dimiliki Saviora. Saviora adalah ratu yang baik hati dan penyihir yang tidak seperti Raviona, menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sedangkan yang terjadi di kerajaan Sion dan Nois adalah kegembiraan. Sioan dan Nois pun akhirnya memiliki seorang anak dan anaknya perempuan, rambutnya berwarna emas dan memiliki tanda lahir yang terletak di telapak tangan kanannya. Tanda tersebut bergambarkan kalung yang mirip sekali dengan milik Bidadari itu. Dan anak itu diberi nama Fairy Necklace atau Kalung Bidadari, sesuai dengan tanda lahirnya dan cerita sebelum dia dilahirkan.

Mojokerto, September 2008

Tidak ada komentar: